Dalam sebuah pelatihan penyusunan soal ujian nasional bahasa Indonesia, seorang tim penyusun soal berdebat mengenai kunci jawaban untuk sebuah soal analisis morfologi. Soal tersebut meminta peserta didik mengelompokkan lima kata berikut ke dalam proses derivasi atau infleksi: menggunting (dari gunting), makanan (dari makan), mendengar (dari dengar), membaca (dari baca), dan memecahkan (dari pecah).
Salah satu anggota tim, seorang guru baru, menjawab bahwa kelima kata tersebut sama-sama merupakan hasil “afiksasi biasa” sehingga semuanya termasuk proses yang sama. Namun anggota tim yang lain, seorang dosen linguistik yang menjadi konsultan, menegaskan bahwa jawaban tersebut keliru karena kelima kata itu sesungguhnya mencerminkan dua proses morfologis yang berbeda secara mendasar: derivasi dan infleksi.
| Kata | Bentuk Dasar | Proses | Alasan |
|---|---|---|---|
| menggunting | gunting (nomina) | Derivasi | Mengubah kelas kata dari nomina menjadi verba; distribusinya berbeda dari gunting (tidak bisa lagi diikuti kata bilangan seperti dua gunting, tetapi bisa diikuti objek seperti menggunting kertas). |
| makanan | makan (verba) | Derivasi | Mengubah kelas kata dari verba menjadi nomina; distribusinya berbeda dari makan (bisa diawali kata sandang/penunjuk seperti makanan itu, tidak bisa lagi berfungsi sebagai predikat langsung). |
| mendengar | dengar (verba) | Infleksi | Tetap berkelas kata verba, distribusinya sama dengan dengar (sama-sama dapat diikuti objek), hanya berbeda dari segi kelengkapan bentuk gramatikal aktif. |
| membaca | baca (verba) | Infleksi | Sama seperti mendengar, tetap berkelas kata verba dan berdistribusi sama dengan bentuk dasarnya, sekadar variasi bentuk aktif dari leksem yang sama. |
| memecahkan | pecah (adjektiva/verba statif) | Derivasi + Infleksi (berurutan) | Tahap 1 (derivasi): PECAH → PECAHKAN, membentuk leksem kausatif baru (“menyebabkan pecah”). Tahap 2 (infleksi): PECAHKAN → memecahkan, sekadar variasi bentuk aktif dari leksem kausatif tersebut. |
